My Kaleb

kaleb renang

Kaleb tidak takut air

Foto ini diambil sudah cukup lama.

Kaleb sangat menyukai air, dia tidak takut air bahkan melompat begitu saja tanpa ragu dan takut. Dia yakin saya pasti ada untuk selalu menangkapnya. Persis seperti iklan asuransi yang sedang sering tayang di teve. “Jangan takut nak, nanti mama tangkap.” Sekedar mengingatkan diri sendiri, sekitar 1 tahun lalu, Kaleb pernah tenggelam. Iya, dia melompat ke kolam dewasa tanpa ada ban, pelampung atau apapun. Saat itu kolam cukup padat pengunjung. Jarak kolam dewasa dan anak-anak sangat sempit, hanya dibatasi oleh pagar pembatas yang tidak menutup semua area. Saat itu, aku dan kaleb baru saja turun dari luncuran anak-anak. Aku memangkunya di pangkuanku dan kami turun bersama. Saat hendak bangkit dari luncuran itu, dia mendahului aku dan langsung melewati pagar pembatas dan seketika itu langsung melompat ke kolam dewasa yang tentunya dalam. Seketika itu juga aku menjerit memanggil namanya, dan melompat masuk ke dalam kolam. Aku menyelam ke bawah bawah agar lebih rendah dari posisi badannya dan mengangkat badannya ke atas. Beruntung ada orang yang memperhatikan kami dan segera menarik tangan Kaleb ke atas. Kejadian di bawah 1 menit ini, mengguncang diriku. Papanya tidak jauh dari situ, tapi memang tidak akan terkejar kalau menunggu dia datang. Jantungku behenti berdetak rasanya. Kami liat kondisi Kaleb tidak kurang suatu apapun. Dan dia juga tidak kelihatan menyadari apa saja yang baru terjadi. Itu pengalaman yang sangat menakutkan. Rasa sayangku menyebabkan aku refleks mengejar dia. Puji Tuhan, aku masih diberi kesempatan untuk membesarkan Kaleb hingga hari ini. Malam ini aku melihat dia menangis karena mengingikan kado yang seharusnya diberikan untuk sepupunya. Anakku sayang, aku akan berusaha keras untuk mewujudkan impian-impianmu. Menjagamu dan mendidikmu kelak agar kau jadi orang yang baik dan bisa menyenangkan hati Tuhan. [EL]

 

 

Advertisements

Batu Akik, Beras dan Ibu Rumah Tangga

Wew, akhirnya dapet kesempatan bisa nulis lagi. Selamat pagi semua. Hari ini saya bisa nulis karena pas timing-nya, mood dan idenya juga ada. Hehehe. Saya tergelitik untuk nulis tentang batu akik yang lagi happening banget sekarang. Tidak hanya di kota-kota besar tapi juga uda masuk ke kota kecil dan kecamatan. Dari pameran di mall sampai pengasahan batu akik di pinggir jalan juga dipenuhi penggemarnya. Para pria baik tua muda banyak yang ngumpul dan saling bercerita, berbagi tentang keindahan batu akik dan berujung pada harga pembelian. Kalau dipikir-pikir sih, tidak ada yang salah dengan itu semua. Namanya lagi musim ya wajar kalau semua pada ikutan punya batu akik. Entah dalam bentuk cincin atau liontin atau gelang. Rata-rata dari segala golongan masyarakat pada ikutan latah punya batu akik. Mulai dari yang harganya cuma puluhan ribu,ratusan ribu, hingga jutaan dan puluhan juta rupiah. Bahkan ada yang punya koleksi lebih dari satu dengan harga berbeda-beda. Dan sekali lagi tidak ada yang mengeluh.

batu

Issue kedua yang mengemuka di seluruh media sepanjang minggu ini adalah mengenai harga beras. Yups, makanan pokok rata-rata rakyat Indonesia ini, ditengarai naik dipasaran. Banyak penyebabnya, bahkan beras raskin saja mencapai Rp. 10.000,- /kg. Pemerintah berkilah ini karena sejumlah sentra produksi beras tidak maksimal panennya, sementara kuota impor tidak ditambah. Otomatis hukum ekonomi berlaku, permintaan tetap atau cenderung naik sementara penawaran tetap atau malah berkurang. Dan naiklah si harga beras. Well, yang pastinya semua pada mengeluh. Kebutuhan pokok pangan soalnya sampai hari ini.

Apa kaitannya dengan ibu rumah tangga ya? Sebenarnya, kalau semua orang sudah siap dengan kenaikan harga beras tentu hal ini tidak menjadi suatu ironi. Artinya ya sudah ada kenaikan pendapatan atau ada uang cadangan untuk mengantisipasi kenaikan harga. Apalagi harga beras yang merupakan kebutuhan dasar. Tapi pada kenyataannya tidak semua rumah tangga siap dengan itu. Yang menjadi ironi buat saya, justru yang mengeluh ini yang juga terkena demam batu akik. Jadi beli batu akik mampu dan gak ngeluh, dan masih mau nambah koleksi lagi. Tetapi begitu harga beras naik, langsung meradang. Kembali lagi disini, kebijaksanaan ibu rumah tangga selaku pengelola keuangan pertama harus berjalan. Karena yang sifatnya konsumtif seperti batu akik ini seharusnya tidak diturutkan. Apalagi pada kondisi dompet keluarga yang pas-pasan. Terbukti dari melonjaknya harga pangan langsung menjerit. Jadi mesti bijaksana mengelola dana, apalagi kalau ternyata yang bekerja hanya suami. Dan suami lagi kesengsem dengan koleksi batu akik. Tentu harus pandai mengkomunikasikan keuangan dengan pasangan. Alih-alih dapat uang tambahan untuk belanja keluarga, malah terpakai untuk membeli dan mengasah batu.

Miris memang, tapi itu terjadi. Budaya konsumtif diantara kita masih tinggi. Budaya saving dan sederhana hilang entah kemana akhir-akhir ini. Akhirnya besar tiang daripada pasak, dan berujung dengan hutang untuk menutupinya. Entah hutang tanpa agunan, entah dengan kartu kredit bahkan kasbon di kantor. Ayo para ibu semua, lebih wise mengelola anggaran rumah tangga, supaya mampu menahan kenaikan harga beras ini dan juga kenaikan harga-harga lainnya.

Mencari Rumah Impian

Hai.. ini postingan lama yang tak pernah saya selesaikan. Sudah sampai judul sementara isinya belum pernah ditulis. Tapi saya yakin dari kurun waktu setahun ini, topik rumah impian ini masih “trending topic” dalam hidup saya.

Well, siapa yang tidak punya impian, termasuk rumah impian. Bisa karena keseringan nonton televisi atau melihat-lihat rumah di sekitar atau karena rumah orangtua selama ini yang sudah hommy. Banyak alasan tetapi tetap sama, setiap orang punya gambaran seperti apa rumah impian itu. Realisasinya yang menjadi tantangan. Apakah hanya sekedar impian atau akan diwujudkan.

Saat ini saya tinggal di rumah yang sejak dibeli belum direnovasi. Dan karena ini rumah sudah bekas pakai, saya tinggal menempati saja. Belum ada realisasi dari rumah impian, Bukannya tidak bersyukur, saya tidak mau cepat berpuas diri. Kenapa? Karena impian punya rumah yang dibangun sendiri itu tentu tidak semudah memimpikannya. Dan terus terang itu salah satu yang menyemangati saya untuk terus bergerak mewujudkannya.

Saat ini saya sedang berburu lokasi rumah impian. Keinginan saya tinggal di daerah yang dekat dengan akses pendidikan anak yang terbaik dan dekat dengan tempat saya bekerja. Sekali lagi, tidak murah memang, tapi saya terus berusaha mewujudkannya. Hidup cuma sekali dan jangan sampai menyesal di hari tua karena tidak tercapai. Berdoa dan berusaha itulah yang saya kerjakan. Terkadang saya merasa panik dan cemas. Mungkinkah? Tapi bagi Empunya hidup ini, saya tau bahwa tidak ada yang mustahil.

Saya menuliskan ini, supaya saya tau mengevaluasi diri. Membuat review atas cara kerja dan pencapaian ke arah impian saya itu, apakah sudah “on the track” dari segi cara kerja dan strateginya.

Bagaimana dengan teman-teman, apakah impian teman-teman?

Bikin Kue Lagi

Hai, apa kabar? Masih sering ngeles kalau mau nulis. Sibuk jadi pembenaran diri. Lumayan kalau uda naik penghasilan atu level di Oriflame. Masih gitu-gitu juga. Padahal seseorang itu kan diketahui rekam jejaknya dari tulisannya kan.

Saya ingin cerita soal buat kue hari ini. Big no no untuk resep baru atau ulasan kue dengan foto kue yang ciamik yang bakal saya bagi. Jadi alkisah, waktu saya lagj demen-demennya masak kue. Saya bisa nyoba resep baru dan beli beberapa bahan kue untuk disimpen. Ya, siapa tau saya mendadak kepengen masak kue kan tengah malam. Hihihi. Sejujurnya bukan hasil kue itu yang berkesan, tapi proses bakingnya. Anak saya yang pertama, Theodora namanya, selalu bertanya, “Ma, kapan masak kue lagi. Kita uda gak pernah lagi masak kue.”  Rengekan si kecil ini biasanya saya tanggapi dengan respon standar. ” Mama sibuk, kapan-kapan ya. Kita beli aja kue di toko roti.” Beberapa waktu dia bisa ditenangkan dengan itu. Dua minggu lalu, di malam hari sebelum tidur, Theo cerita, kalau tadi di sekolah dia baking sama gurunya. “Bikin kue tadi di sekolah, Ma” Digiling dan dicetak kuenya, dikasih coklat bulat katanya. Di akhir cerita dia nanya lagi, ” Ma, kapan kita bikin kue lagi?” Pertanyaan itu tetap lengket di kepala saya beberapa hari berikutnya. Kemarin saya pulang jaga malam dari rs. Setelah urus urusan sana sini saya jemput dia dari sekolah. Niat saya sih, sampai rumah mau balas tidur yang kurang karena jaga malam. Balik lagi diingatkan soal masak kue ini. Alhasil saya akhirnya memenuhi permintaan anak. Mulailah saya mencari mixer dan otang yang sudah lama teronggok. Ternyata mixer itu patah di dalam jadi hanya bisa satu gagang aja yang dipakai untuk nyampur adonan. Otang yang saya panaskan entah bagaimana bisa bau gosong dan rupanya api di kompor gas melebar karena ada sisa kerak makanan yang lengket disana. Penuh perjuangan lah saya mengadon itu. Tapi Theo menikmati sekali proses masak kue bareng saya. Dia bisa ikut memecahkan telur, memegang mixer dan tentu saja menjilati adonan sisa. Dengan penuh perjuangan akhirnya masuk ke loyang dan siap dipanggang. Estimasi sekitar 35-40 menit untuk baking dengan api seperempat kalau di putaran kompor gas saya. Ups, belum lagi kue siap dipanggang, hape berbunyi. Jadwal kerja saya dipercepat. Alamak jang, bagaimana ini? Hadeuh untung saja ada ART yang bisa dimintai tolong, jadilah saya pergi dengan deg-degan.

Pulangnya jam delapan malam, baru lah saya liat kue buatan saya itu sudah dimakan separuh  dan jadi. Hahahaha. Thank’s God..

Moral of the story buat saya. Luangkan waktu dengan anak. Kudu, Harus, Mesti.

Hari Ini Saya Naik Angkot

Hari ini saya naik angkot. Jangan salah teman, satu dekade lebih saya menghabiskan hidup dengan menunggu angkot, naik angkot, berantem sama tukang angkot, dan kena ciprat angkot yang melintas sesukanya. Kegiatan saya tersering terakhir ini, salip-salipan sama tukang angkot. Nostalgia jadinya, tadi kembali dari tempat tugas tidak ada yang bisa antar ke rumah. Alhasil hari ini saya naik angkot yang belum berubah warna dan tujuan nya sejak terakhir kali saya naik, cara bawa supirnya juga masih sama, meski supirnya tidak pernah sama. Di Medan ini, supir angkot nya sangat terkenal tidak mau mengalah. Biar dentuman musik dalam angkot sudah maksimal supir tetap tak perduli. Lewat 25 m dari tempat kita tereak minta berhenti itu biasa.

Ngomong-ngomong di Medan ini, angkot itu disebut dengan panggilan sudako. Saya juga tidak tahu persis dari mana asal kata itu. Tapi kalau temen temen penasaran bisa klik disini. Dan untuk bilang berhenti, kita bisa tereak, “Pinggir Bang.” Kalau beda kota beda lagi kan cara bilangnya biar berhenti angkotnya.

Yang paling tidak terlupakan kalau naik angkot itu adalah, enaknya tidur di angkot. Maaf, mungkin temen-temen tidak setuju, gpp juga. Silakan posting komen nanti ya. Kenapa saya berani bilang begitu. Itu kenyataan temen-temen dan terjadi pada banyak orang. Kayak saya tadi, begitu masuk ke dalam angkot, segera mengambil posisi strategis. Dimana itu? Posisi paling ujung di angkot. Ambil posisi aman dan kunci tas, peluk erat-erat dan sandarkan satu tangan untuk menahan kepala ke bagian belakang dekat kaca mobil belakang. Dijamin dalam hitungan menit sudah pulas. Ada yang sudah pernah mencoba kan?  Biarpun tertidur lelap, tetap saja loh saya jarang kelewatan di tujuan. Maklum kalau angkot berhenti kita  akan buka mata sekejap sebelum tidur lagi. Iru rahasia saya. Kalau kamu bagaimana? Sekian dulu dan Selamat Hari Sabtu. [EL]

Keluar Dari Zona Nyaman

Sebelum Anda sekalian semua membaca tulisan ini, saya lebih dahulu meingatkan; tulisan ini tidak bersifat menggurui siapapun dan ini hasrat pikiran yang saya tuangkan dalam bentuk tulisan. That’s all.

Siang ini saya menelepon seorang kenalan dari bisnis yang saya geluti selama ini. Pendalaman saya yang kurang mengenai profil downline ini membuat saya mengira kalau beliau adalah mahasiswa semester 1. Rupanya setelah ngalor ngidul dia ternyata mahasiswa semester 1 program pascasarjana. wow, saya jadi lebih kaget lagi tapi masih bisa segera mengatasinya dengan bilang okey, sama saya juga sudah S2. Kenalan saya ini aktivitas perkuliahanya tiga kali dalam seminggu jadi sisa minggu dihabiskan dengan pulang kampung ke rumah orangtua di kampung. Belum pernah bekerja setelah tamat S1 dan langsung mengambil Program S2. Dan selama program S2 ini juga tidak sambil bekerja. Usia 24 tahun. Belum menikah. Ada ada yang kurang pas dari profil yang saya tulis diatas? Hmm, tidak juga sih karena saya juga pada usia itu juga belum selesai pendidikan profesi dan juga belum menikah. Jadi apa masalahnya? Tapi tetap aja ada yang ‘ngganjel’ kan?

Nah, apa yang kurang pas rasanya. Karena dia tidak bekerja. Well, dia kan masih kuliah. Tapi dia sudah berada dalam usia produktif bekerja kan? Dan perkuliahan yang tiga kali seminggu diakhiri dengan pulang kampung dan tidak mengerjakan apapun selain menunggu jadwal kuliah di awal minggu berikut. Yup itu dia zona nyaman. Jangan bilang zona nyaman itu hanya sebatas orang yang sudah punya karir dan bergaji tetapi tidak mau keluar unt improve diri, Zona nyaman ini bisa meliputi semua aspek dan mudah sekali kita masuk ke dalamnya, karena mungkin selama ini sudah disitu ato dengan susah payah masuk ke kehidupan yang sudah mulai nyaman dan mapan. Well, apa yang salah dengan itu darl? Tidak ada yang salah. Tapi taukah untuk apa segitu jauh kita sampai ke jenjang pendidikan itu? Yap, untuk meningkatkan derajat hidup. Lebih penting lagi untuk mengupgrade impian kita, Dan bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan impian kita kalau kita tidak mau beranjak dari zona nyaman ini. Saya beritahu kalau dia punya kesempatan untuk mendapat income tanpa meninggalkan bangku kuliah dan bahkan bisa meringankan beban keuangannya. Lagi-lagi dia cuma tersenyum seolah saya dari planet lain. Memang dia membenarkan ucapan saya yang mengingatkan itu, tapi ya tidak ada tanda-tanda positif bahwa dia akan keluar dari situasi itu. Sekali lagi setiap orang bertanggung jawab atas mimpinya. Dan saya juga begitu. Kembali berkutat untuk menemukan calon core team berikutnya. [EL]